Wisata Edukatif untuk Anak ke Perpustakaan Umum Nasional

Gedung baru Perpustakaan Umum Nasional (Perpusnas) yang diresmikan Persiden Jokowi pada Oktober 2017 memiliki total 24 lantai. Nah, dari 24 lantai yang ada ternyata ada satu lantai yang dikhususkan untuk anak-anak.

Sebetulnya lantai 7 ini bukan hanya khusus anak, tapi juga untuk lansia dan disabilitas (beda ruang). Namun, di tulisan ini saya hanya akan membahas bagian layanan untuk anak.

Advertisements

Tips Jalan-Jalan Hemat Ala Saya

Setiap orang bisa jalan-jalan, tak perlu mempunyai uang yang banyak untuk bisa pergi berwisata. Asalkan tahu triknya, siapa pun bisa jalan-jalan dengan dana yang terbatas.

Nah, kali ini saya ingin berbagi tips dan trik jalan-jalan murah versi saya.

1. Ambil waktu yang tepat. Kenapa harus tahu waktu yang tepat untuk pergi berwisata? Karena dalam dunia pariwisata dikenal istilah high season dan low season. Atau musim ramai dan musim sepi. Di musim ramai, harga tiket pesawat dan penginapan melambung tajam. Sementara di musim sepi cenderung turun atau banyak diskon. Nah, carilah waktu di antara musim-musim sepi ini. Hari keberangkatan dan kepulangan pun usahakan jangan mengambil akhir pekan atau hari libur, apalagi long weekend, hindari sebisa mungkin. Karena di hari-hari ini harga tiket relatif lebih mahal dibanding di hari kerja. Soal harga yang lebih mahal ini, bukan hanya untuk tiket pesawat dan tarif hotel saja. Beberapa tempat wisata, menerapkan harga yang berbeda untuk hari biasa dan hari libur atau akhir pekan.

2. Pilih moda transportasi yang termurah. Tentukan ke mana kita ingin pergi. Searching, bagaimana untuk sampai ke sana. Pasti ada beberapa pilihan alat transportasi umum yang tersedia. Pilihlah yang sekiranya terjangkau oleh kita.

Belum terjangkau juga ? Gunakan alat transportasi yang tersedia di rumah. Bisa mobil, sepeda motor, atau bahkan sepeda. Untuk sepeda motor dan sepeda, dengan catatan jaraknya memungkinkan ditempuh dengan alat itu ya… Jangan maksa, misalnya ke Paris pakai sepeda :-D. (Meski ini juga bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan).

Saya dan suami sering jalan-jalan memakai sepeda motor. Kami tinggal di Cikarang, Kab. Bekasi. Untuk jarak yang tidak terlalu jauh seperti ke Kota Bekasi, Karawang, Purwakarta, hingga ke Bandung, biasa kami tempuh dengan bersepeda motor. Irit, praktis, dan anti macet.

3. Membawa Bekal Sendiri. Repot? Ya elah…kan mau irit, ya harus mau repot. Kalau tidak mau repot, sudahlah duduk manis saja di rumah, sambil nonton Babang Hamish di MTMA.

Yups, harus mau repot untuk bisa irit, karena pengeluaran untuk makan dan minum bisa jadi lebih besar dari harga tiket yang kita keluarkan. Apalagi kalau perginya ke kota atau negara yang memang sudah terkenal dengan biaya hidupnya yang mahal, contohnya Batam atau Singapura.

Bekal yang bisa dibawa sendiri antara lain makanan, minuman, dan jangan lupa, alat untuk memasaknya. Kita sesuaikan saja. Kalau cuma one day trip bisa membawa makanan siap santap. Seperti roti, sosis siap makan, kue-kue kering, biskuit,dll. Jadi, tidak perlu membawa alat masak ya, kalau rumah di Bekasi, cuma mau jalan-jalan ke Ancol :-D.

Tapi, kalau kita mau pergi untuk waktu yang lebih lama misal 3-4 hari, tak ada salahnya mempersiapkan diri dengan membawa rice cooker kecil dan bahan makanan yang memungkinkan untuk dibawa.

O iya, kalau memang berencana untuk memasak sendiri, jangan lupa, carilah tempat menginap yang memungkinkan kita untuk memasak di situ. Beberapa homestay biasanya menyediakan dapur untuk memasak.

4. Mencari Tumpangan Menginap. Urusan akomodasi merupakan salah satu komponen penting yang harus diperhatikan. Penting karena menyangkut kenyamanan kita dalam berwisata. Wisata murah tidak berarti harus ngegembel lho ya. Menumpang di rumah saudara atau kenalan bisa menjadi alternatif pilihan. Dalam hal ini tentu harus memperhatikan beberapa hal. Pertama, jangan sampai merepotkan si pemilik rumah. Misalnya untuk urusan makan, usahakan menyiapkan sendiri. Jangan menggantungkan diri pada pemilik rumah. Yang kedua masalah kebersihan. Jaga selalu kebersihan, jangan jorok ! Karena ini akan membuat orang kapok menampung kita.

5. Jangan Belanja dan Kulineran. Tujuan kita berwisata untuk apa? Untuk sekadar melihat dan mengunjungi tempat-tempat yang indah saja atau ada tujuan lain? Wisata kuliner? Wisata belanja? Yah, kalau seperti itu jangan harap bisa irit. Wisata irit berarti jangan belanja dan makan enak, titik. Jadi wisata hemat sama dan sebangun dengan jalan-jalan saja. Cukup. Tanpa belanja dan jajan.

Oke, sementara itu saja yang bisa saya tulis berdasarkan pengalaman. Ada yang punya tips wisata murah juga ? Share yuk…

Curug Cimahi, Si Cantik Dari Bandung

IMG_0937Curug Cimahi

 

 

 

 

 

 

 

Bandung, diriung ku gunung, demikian dikatakan oleh sebuah lagu Sunda yang cukup populer di Bumi Parahyangan. Memang begitulah adanya, Bandung dikelilingi beberapa gunung antara lain Gunung Burangrang, Gunung Manglayang, Gunung Patuha dan yang paling dikenal Gunung Tangkuban Perahu. Kondisi geografis ini  membuatnya kaya akan pesona alam. Di Bandung kita akan disuguhi parade pesona alam yang membuat betah untuk menikmatinya. Mulai dari danau, kawah, bukit, tebing sampai air terjun atau curug. Dari beberapa curug yang ada di Bandung ada satu yang paling istimewa dan selalu menjadi curug favorit saya dan keluarga. Yaitu Curug Cimahi atau ada juga yang menyebutnya Curug Pelangi.

Curug cantik ini terletak di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Jadi, jangan salah ya, letaknya bukan di Kota Cimahi tapi justru di Kabupaten  Bandung  Barat. Lantas kenapa disebut Curug Cimahi? ternyata karena aliran airnya berasal dari Sungai Cimahi yang berhulu di Situ Lembang dan mengalir ke kota Cimahi. Beberapa curug di sekitar situ. Yaitu Curug  Bugbrug dan Curug Pengantin juga berasal dari aliran sungai yang sama.

Curug Cimahi memiliki ketinggian kurang lebih 87 meter merupakan salah satu curug tertinggi di Bandung. Berada di ketinggian 1050 m dpl dengan suhu di kawasan berkisar 18-22 derajat Celsius, cukup sejuk bukan? Sama dengan suhu ruangan ber-AC. Jadi dijamin bakalan betah kalau main di sini, sejuk dan suasananya segar.

Kalau biasanya curug itu identik dengan lokasi yang jauh dari keramaian dan agak susah dijangkau, Curug Cimahi beda, letaknya di Jl. Kolonel Masturi tepat di depan terminal angkot Cisarua. Masuk ke Kabupaten Bandung Barat.  Akses menuju lokasi juga sangat mudah. Kalau memakai kendaraan pribadi bisa lewat Jl. Setiabudi ke arah Lembang. Nanti ketemu jalan Sersan Bajuri (bukan Bajay Bajuri lho ya..) di kiri jalan, belok deh di situ. Dari situ ikut sajajalan sampai ketemu loket masuk ke curug. Gampang bukan?

Nah, kalau  naik kendaraan umum, dari Bandung kota bisa naik angkutan jurusan Lembang, turun di Terminal Ledeng. Lanjut naik angkot jurusan Parongpong. Dari Parongpong lanjut naik yang ke Cisarua.  Nah loket masuknya tepat di depan terminal angkot Cisarua. Mudah sekali ditemukan, kalaupun bingung, jangan ragu untuk bertanya, orang  Bandung ramah-ramah kok. Asal kita mau bertanya pasti ditunjukkan arah yang benar.

O iya, bicara  fasilitas, curug ini merupakan salah satu curug dengan fasilitas terbaik. Khususnya di Bandung. Di Curug Cimahi sudah tersedia musholla, tempat ganti baju, toilet, juga ada beberapa penjual makanan tepat di dekat curug. Jalan menuju curug yang berupa tangga juga sudah disemen. ada juga fasilitas baru berupa menara pandang yang dilengkapi dengan meja dan kursi. Pokoknya lengkap dan kondisinya juga bagus, terbaik…(kata Bobo Boy). ­čśü

Soal view, Curug cantik ini juga yang terbaik.  Karena uniknya,  curug ini sudah bisa dilihat dari jauh (dari atas). Jadi,  untuk menuju ke curug kita harus menuruni kurang lebih 587 anak tangga.  Tapi di anak tangga ke-200 an (kurang lebih) kita sudah bisa melihat curugnya. Apalagi sekarang dibuat beberapa menara pandang untuk melihat curug dari atas. Sudahlah,  dijamin puas kalau berkunjung ke sini. Apalagi buat yang senang memotret, dijamin suka. Soalnya dari satu curug bisa diambil banyak gambar dari ketinggian yang berbeda. Dari mulai curugnya masih terlihat kecil, sampai tampak di depan hidung.

Last but not least, Curug Cimahi dibuka dari jam 08.00-21.00. Harga tiket masuknya juga relatif murah. Untuk masuk sebelum jam 17.00 harga tiketnya 12 ribu rupiah, sedangkan kalau masuknya setelah jam 17.00 harga tiket menjadi 15 ribu rupiah. Kenapa lebih mahal? Tunggu ceritanya di post berikutnya ya..

 

 

 

 

Meretas Jalan Menuju Impian


Menjadi seorang tour leader adalah impian saya sejak SMA. Itulah alasan mengapa saya mengambil jurusan pariwisata untuk kuliah saya. Tapi, perjalanan hidup membelokkan saya ke arah berbeda. Karena keadaan saat, saya tidak bisa bekerja di bidang yang saya minati. Bidang yang sesuai dengan passion saya ini, harus saya tinggalkan dan merintis karir di bidang lain.

Setelah sempat bekerja selama kurang lebih 5 tahun di bidang lain, saya akhirnya memutuskan untuk resign karena menikah. Setelah menikah, saya fokus dengan keluarga, mengurus rumah, suami dan anak-anak.

Tepatnya 8 tahun setelah menikah, dengan anak-anak yang mulai beranjak besar, saya pun mulai mempunyai waktu untuk diri sendiri. Dan mulailah saya aktif di dunia maya, atau lebih tepatnya di facebook.

Sebetulnya sebelum menikah saya sempat mengenal internet, jamannya chatting pakai mrc. Facebook dan twitter belum ada waktu itu. Cukup lama juga saya asyik dengan internet waktu itu sampai memiliki banyak kenalan di belahan dunia lain. Tapi akhirnya,seiring waktu, dan dengan bertambahnya kesibukan mengurus keluarga, internet pun saya tinggalkan, tidak pernah menyentuhnya sama sekali.

Barulah pada tahun 2009, karena desakan teman-teman SMA untuk membuat akun facebook, saya pun come back ke dunia maya. Dan, terbukalah semuanya. Saya menemukan lagi keasyikan berinternet, di mana dengan sekali klik, dunia ada dalam genggaman, dunia terlipat menjadi sekecil telepon genggam. Masyaa Allah, memang dahsyat sekali efek internet dalam mengubah hidup seseorang.

Saya, yang semula  hanya ibu rumah tangga biasa, hampir tanpa cita-cita yang muluk-muluk (selain untuk melihat anak-anak tumbuh cerdas dan sehat), perlahan bertransformasi menjadi seorang dengan cita-cita dan keinginan yang kuat untuk mewujudkan mimpi-mimpi masa mudanya.

Titik demi titik dalam perjalanan saya menuju mimpi, mulai terbentuk menjadi garis yang semakin jelas arahnya. Semua yang dulu saya impikan perlahan-lahan mulai mewujud. Belum sempurna memang, tapi semakin jelas arah yang harus  saya tempuh.

Beberapa kali saya berhasil membuat trip kecil-kecilan. Keberhasilan yang saya peroleh semakin membuat saya percaya diri. Hanya saja, kembali saya harus menunda untuk mewujudkan mimpi. Di tahun 2014, Allah memberi saya kepercayaan untuk hamil lagi (anak ketiga). Mau tak mau saya harus istirahat total untuk sementara. Sekarang, Haris, anak ketiga saya sudah berumur 3,5 tahun. Mulai bisa ditinggal. Saya putuskan untuk mulai lagi menyusun langkah untuk kembali ke trek semula. Ada ketakutan untuk keluar dari zona nyaman sebetulnya. Tapi insyaa Allah, berhasil saya singkirkan dengan tekad yang kuat untuk berhasil wujudkan mimpi.

Dan, sesungguhya, banyak nama yang harus saya sebut, sehingga saya sampai di sini. Nama-nama dari pribadi hebat yang menginspirasi saya untuk bertahan di jalan terjal yang harus dilalui menuju puncak.

Ada Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya. Kalau Edensor menjadi pelipur lara Ikal kecil saat kehilangan semangat, maka Laskar Pelangi menjadi penghiburan yang mampu mengangkat lagi semangat saya di saat-saat terpuruk. Entah berapa kali sudah saya membaca buku itu, sampai lecek karena seringnya dibaca.

Ada juga Imazahra Fatimah, sosok wanita kuat yang saya kenal pertama kali dari majalah Tarbawi, edisi bulan Mei 2012. Mengenalnya membuat saya tertular semangatnya. Betul yang dikatakan orang, kalau energi positif itu menular sama halnya dengan energi negatif. Berinteraksi langsung dengannya membuat saya tertular energi positifnya yang membuncah.

Satu lagi wanita kuat yang sangat mempengaruhi saya, Teh Lygia Pecanduhujan. Single parent  yang betul-betul kuat . Saya belajar dari beliau melalui status-statusnya yang menginspirasi tanpa menggurui. Cukup lama saya diam-diam menjadi pengagumnya, sampai pada akhirnya ada kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat.

Satu lagi sosok yang saya kagumi diam-diam, Lalu Abdul Fatah. Seorang penggiat literasi yang jalan hidupnya membuat saya terinsipirasi untuk berani mengejar mimpi. Etape demi etape dalam hidupnya adalah rangkaian dari bukti bahwa bila kita tahu tujuan hidup kita dan fokus untuk meraihnya, semesta pun mendukung. Betul, saya  tidak malu untuk mengakui bahwa saya belajar banyak dari anak muda hebat ini.

Sebetulnya masih ada beberapa lagi sosok hebat yang menginspirasi saya, tapi cukup dulu deh untuk kali ini. Lain waktu saya ceritakan yang lainnya.

GambarDengan Teh Lygia Pecanduhujan di Bandung.

Gambar

Alhamdulillah sempat bersilaturrahim ke rumah Mbak Imazahra di pinggiran Bandung.

Bareng Lalu Abdul fatah di Penanjakan

Bareng Lalu Abdul fatah di Penanjakan, Bromo.

Jadi, masih takut mengejar mimpi? Ayolah, singsingkan lengan baju, pakai sepatumu. bergegas bangun dari tidurmu dan buat mimpimu jadi nyata.

Curug Tilu ; Keindahan Yang Tersembunyi

Sebetulnya hari itu kami (saya dan teman saya, Mbak Iie) tidak berencana untuk pergi ke Curug Tilu. Awalnya, kami berniat mengunjungj Pasar terapung di Lembang (Lembang Floating Market). Tetapi sampai di tempat yang kami tuju, entah kenapa kami merasa kurang nyaman, dan memutuskan untuk pulang lebih cepat.

Nah, ketika kami sedang berdiri di depan gang menuju LFM, lewatlah sebuah angkot jurusan Parongpong, dan tanpa ba bi bu lagi saya langsung mengajak Mbak Iie untuk naik. Padahal waktu itu jarum pendek di jam saya sudah menunjuk ke angka dua. Mbak Iie sempat bertanya : “Apa nggak kesorean Mbak”?, Saya jawab,”Insya Allah nggak Mbak..”.

Dan, karena sudah lewat jam makan siang, perut kami pun menuntut haknya. Akhirnya kami sempatkan mampir di sebuah warung padang di terminal angkot Parongpong. Di sini, Mbak Iie mempraktekkan kepiawaiannya berbahasa Padang.

Selesai makan, kami pun mencari ojeg untuk melanjutkan perjalanan. Dan akhirnya naiklah kami berdua ke satu motor, cenglu kata orang Jawa :)…

Dari terminal Parongpong ke gerbang Curug Tilu kami melewati deretan viila-villa mewah. Belakangan baru saya tahu, villa-villa itu yang dikenal dengan sebutan Villa Istana Bunga. Dan setelah kurang lebih 15 menit terlonjak-lonjak di atas motor, kami pun sampai di depan gerbang Curug Tilu. Setelah membayar tiket masuk, kami pun meneruskan perjalanan menuju  curug.emandangan sepanjang perjalanan sangat menyejukkan mata. Di sekeliling tampak pepohonan yang lumayan lebat. Di sisi kanan ada aliran air yang berasal dari curug. Menurut informasi yang diberikan Teteh penjaga loket, air ini dimanfaatkan untuk PAM (Perusahaan Air Minum) Kabupaten Cimahi.

Semakin mendekati curug, aliran air semakin besar. Jalannya juga sudah tidak disemen lagi seperti di awal jalur. Kami menemui dua buah jembatan kayu yang lumayan unik. Dan sayang kalau dilewatkan tanpa berfoto ria di sini ­čśÇ

image

Kurang lebih satu jam perjalanan telah kami tempuh. Aliran air yang kami temui tampak semakin deras. Dan samar, mulai terdengar suara air terjun di kejauhan.

image

Akhirnya sampailah kami di tempat tujuan. Curug pertama dari tiga curug di lokasi ini. Air terjunnya tidak terlalu tinggi, kurang lebih 10 meter dan lebar dua meter, tapi sangat indah, asli dan alami. Mungkin karena jarang dikunjungi orang ya..

image

Kami tidak berlama-lama di sini. Setelah rehat sebentar kami pun melanjutkan langkah kami menuju curug kedua. Jalannya lebih susah dari sebelumnya, licin karena beberapa kali harus melewati bebatuan yg dilewati aliran air.

Kurang lebih 15 menit perjalanan dari curug pertama, kami pun touch down curug kedua. Curugnya tidak terlalu tinggi, kurang lebih hanya 2-3 meter. Dengan kolam lebar di bagian bawah air terjun. Menurut informasi yang saya terima, kolam ini dalamnya sekitar 10 meter. Sehingga pengunjung disarankan tidak berenang di sini.

Hanya sayangnya, di kedua curug ini tidak ada fasilitas apa pun. Tidak ada WC, tempat ganti, ataupun musholla.

image

image

Karena waktu semakin sore, kami hanya sebentar di curug kedua. Setelah mengambil beberapa gambar kami pun langsung pulang melewati jalur lain yang lebih dekat.

image

Meskipun dihadang banjir kecil yang membuat kami harus berjalan super hati-hati. Tertatih-tatih melewati batuan yang licin. Kami tetap maju, soalnya kalau harus melewati jalur yang kami ambil waktu berangkat, bisa bisa kami kemalaman di hutan. Hii..tak terbayangkan.

Akhirnya, sampailah kami di tempat penjualan tiket. Kami berdua numpang sholat ashar terlebih dulu, baru lanjut ke Parongpong. Dari Parongpong lanjut ke Ledeng. Dan akhirnya sekitar jam 19.00 kami sampai di rumah kembali.

Perjalanan sehari yang mengesankan. Semoga suatu saat bisa kita ulangi lagi ya Mbak Iie..

Image

Arung Jeram Sungai Serayu

581491_639227809429856_2054921197_n-picsay

Berangkaaaat….

Bisa melakukan olah raga yang termasuk ekstrem ini, buat saya adalah suatu mimpi yang jadi nyata. Jiaaah bahasanya, tapi bener lho,saya punya daftar hal-hal yang ingin saya lakukan. Dan arung jeram tertulis di deretan atas, yang artinya kepingin sekali.

Oke, sampai mana ceritanya ? Lanjut ya..jadi ceritanya nih, waktu saya liburan di Wonosobo, seorang teman mengajak saja mencoba berarung jeram di sungai Serayu. Gayung bersambut, pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya,  jadilah saya, mak rempong satu ini bisa melunasi salah satu impiannya.

Pagi itu, dengan semangat 45 saya berangkat ke lokasi. Letak base campnya di daerah perbatasan Banjarnegara-Wonosobo. Tepatnya di RM Resto Kampung Kali Jujugan Serayu. Kalau dari arah Banjarnegara, letaknya di kiri jalan. Mudah kok menemukannya. Ada plang yang cukup besar di depannya. Resto asri ini menjadi tempat start dan finish pengarungan.

Setelah semua persiapan oke, kami memulai pengarungan. O ya panjang jalurnya kira-kira 25 km yang akan ditempuh dalam 2,5 jam. Sedang jeramnya masuk grade 3-4.

Satu┬áperahu diisi 5-6 orang. Di depan ada guide 1 orang. Tugasnya mengarahkan arah perahu. Terus di samping kanan kiri ada 2 orang lagi tukang dayung. Namanya apalah lupa lagi saya. Intinya dia bertugas mendayung sesuai arahan guide yang di depan tadi. Kita mah duduk manis aja di tengah. Mau bawa dayung boleh, buat gaya gayaan doang…biar pantes kalau difoto he he…

 

Awal- awal pengarungan, sungainya masih tenang, belum terasa arusnya. Kita bisa menikmati pemandangan di kiri kanan sungai. Kebanyakan sih sawah dan ladang penduduk. Hijau, adem, dijamin bikin segar lagi otak kita. Sayangnya, selama pengarungan kita tidak diperbolehkan membawa kamera. Kecuali siap dengan risikonya, jatuh ke air atau rusak karena sebab lain.

Tapi, jangan takut tidak bisa selfi. Dari pihak resto ada fotografer yang siap mengambil gambar. Mas fotografer ini mengambil gambar dari pinggir sungai. Jadi, dia siap di titik- titik yang akan dilewati perahu kita. Tapi, ya..gitu deh, fotonya dari jauh semua. Kurang jelas wajah kitanya, hi hi…berasa gimana gitu kalau wajah kita tak terlihat. Malah ada yang terlihat dari belakang.

1001376_639228076096496_18459804_n-picsay

Rugi deh kita, difoto tapi mukanya tak terlihat. Saya, pakai rompi kuning, helm orange.

O iya, mungkin ada yang bertanya amankah berarung jeram di Sungai Serayu ini. Saya bisa yakinkan anda, aman. Karena setiap penumpang wajib memakai jaket pelampung dan helm. Jadi, yang tidak bisa berenang pun tak akan tenggelam kalau misalnya sampai jatuh ke air. Terus, setiap perahu yang membawa tamu diikuti satu perahu penyelamat di belakangnya. Seperti terlihat di gambar atas. Ada perahu yang menempel di belakang perahu saya. Nah, itu perahu penyelamat yang tugasnya menolong mengangkat penumpang yang jatuh ke air. Memangnya ada yang bisa jatuh ke air? Ada..! Soalnya disengaja sama crew-nya. Pada jeram tertentu, perahu sengaja dimiringin. Byuuuur…pada jatuh deh. Tapi asyik kok. Ngeri-ngeri sedap gitu. Apalagi buat yang tidak pandai berenang.

O iya, hampir lupa. Kira-kira setengah perjalanan, perahu berhenti di rest area. Di situ sudah disediakan wedang jahe dan tempe kemul. Mantaaaaap (y) pasangan yang sempurna.

_20170220_023528-picsay

Setelah istirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan menuju titik akhir pengarungan. Sepanjang aliran sungai, saya hanya bisa bergumam takjub. Menyebut nama-Nya. Tahmid dan tasbih, tak lepas dari bibir saya. Segala puji untuk-Nya yang telah memungkinkan perjalanan ini untuk saya. Maha suci Allah. Tiada yang sia sia dari ciptaan-Nya. Bahkan dari arus deras dan jeram pun, kita bisa ambil manfaatnya.

Di sini, di tengah arus yang deras, saya merasakan betul kuasa_Nya. dan menyadari  lemahnya diri, tak berdaya, dan hanya Dialah yang Maha Kuat, Maha Kuasa.

Maka, betul apa yang dikatakan seorang teman. Kalau perjalanan seharusnya mendekatkan kita kepada-Nya. Pemilik alam ini, pencipta semua keindahan yang kita nikmati. Kalau kepada ciptaan-Nya saja kita terkagum-kagum. Apatah lagi pada yang menciptakan-Nya. Bukankah pencipta pasti lebih hebat dari ciptaannya? Harusnya, kita yang sering  berjalan, lebih tunduk kepada-Nya. Bukankah kita telah melihat begitu banyak bukti kebesaran-Nya. Berserakan sepanjang jalan. Menanti kearifan kita untuk memberinya makna.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang  kamu dustakan?

Perjalanan Singkat Mewujudkan Mimpi

Puncak Prau bukan tempat yang asing buat saya. Saya pernah menyambanginya semasa SMA dulu. Tapi, untuk kembali melangkahkan kaki lagi di puncaknya, sepertinya hanya mimpi.

FB_IMG_15037848983179867

Tapi, bukankah semua hal hebat di dunia ini juga berawal dari mimpi? Jadi saya bulatkan tekad untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya, satu demi satu. Dimulai dari yang termudah dulu. Menaklukkan ego saya di Gunung Prau ini.

Gunung Prau, dengan ketinggian 2565 mdpl adalah puncak ketiga yang saya jejaki setelah Sikunir dan Pakuwaja. Puncak ketiga yang saya maksud di sini, adalah yang saya daki setelah menjadi ibu. Dulu…sekali, pada masa gadis saya sudah pernah mendaki beberapa gunung di Jawa Tengah antara lain Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Lawu, Gunung Merbabu, serta Gunung Papandayan di Jawa Barat.

Kalau dulu, kami biasa naik gunung malam hari, jadi start dari desa terakhir kurang lebih jam sembilan malam, dan tepat di saat surya terbit, sudah tiba di puncak.  Kali ini saya memilih naik siang hari. Kami (saya dan dua orang teman) berangkat dari desa terakhir kira-kira pukul sebelas siang.

Sebetulnya kami agak ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan, sebab saat tiba di desa terakhir, yaitu desa Pathak Banteng, udara terasa dingin menusuk tulang. Pertanda tidak lama lagi akan turun hujan, bahkan bisa jadi disertai badai. tapi saya keukeuh untuk tetap naik, dan kedua teman saya hanya bisa menuruti.

Akhirnya, di bawah gerimis kecil kami memulai pendakian. Karena tidak berencana untuk menginap di gunung, kami hanya membawa bekal seperlunya saja. Saya membekali diri dengan sebotol air mineral, sebungkus besar roti untuk kami bertiga dan sebatang coklat. Perlengkapan yang saya bawa juga hanya baju yang melekat di badan dan sepatu. Bahkan karena terlalu bersemangat, saya sampai lupa membawa jaket. Untung teman saya mempunyai kenalan di desa terakhir yang bisa meminjami jaket. O iya, di desa terakhir saya sempat membeli jas hujan plastik seharga 5 ribu perak, persiapan kalau turun hujan di perjalanan nanti.

Balik ke cerita ya, alhamdulillah, setelah berjalan, mendaki, menapaki tanjakan demi tanjakan, selama kurang lebih 2,5 jam, sampailah kami di Puncak Prau. O iya, saya sempat sholat dzuhur di jalan. Salah satu sholat ternikmat yang pernah saya lakukan. Hanya saya, Allah dan alam yang hening.

 

Ketika kami sampai, puncak tertutup kabut. Jarak pandang hanya beberapa meter. Sepi, sepi yang menenangkan, tak ada orang lain di sana, hanya kami bertiga. Tasbih dan tahmid pun terlantun. Bahagia rasanya bisa menatap alam dari ketinggian lagi. Setelah bertahun-tahun hanya bisa memimpikannya.